Bagaimana Strategi Gojek Bakar Uang untuk Menguasai Pasar?

Ingatkah Anda masa-masa kejayaan perang tarif ride-hailing?

Ride hailing adalah layanan di mana penumpang menggunakan platform online, seperti aplikasi ponsel pintar, untuk terhubung dengan pengemudi. Pengguna harus memasukkan tujuan mereka, memesan kendaraan, dan pengemudi sebelum melakukan perjalanan.

Setelah itu, penumpang tinggal menunggu di dalam kendaraan hingga tiba di tempat tujuan. Memanfaatkan layanan transportasi ride hailing dikenal karena kenyamanan dan efektivitasnya.

Tarif yang ditawarkan oleh penyedia layanan ini juga cukup terjangkau, terutama selama periode promosi.

Nah, periode diskon gila-gilaan, promo menggiurkan, dan kemudahan akses transportasi yang belum pernah ada sebelumnya.

Di balik kenyamanan itu, ada strategi jitu yang dijalankan Gojek, sang pionir, dengan amunisi yang tak biasa yaitu bakar uang. Nah, pada artikel ini kita akan mengetahui strategi gojek bakar uang agar bisa menguasai pasarnya. Yuk simak!

Strategi Gojek Bakar Uang: Senjata Makan Tuan?

Sebelumnya kita flashback terlebih dahulu, pada tahun 2019, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menyatakan Indonesia akan punya startup decacorn tahun ini.

Decacorn adalah julukan bagi startup yang memiliki valuasi di atas US$10 miliar atau setara Rp 140 triliun.

Awal tahun ini, Go-Jek menerima suntikan dana sebesar US$920 juta dari Google, JD.com, Tencent, Mitsubishi Corporation, dan Provident Capital sebagai bagian dari putaran pertama pendanaan Seri F.

Mereka menargetkan untuk mengumpulkan total US$2 miliar dari putaran pendanaan ini.

Sehingga, Gojek yang berstatus startup decacorn kebanggaan Indonesia ini bisa dikatakan melaju pesat dengan menggelontorkan dana fantastis untuk subsidinya.

Keberhasilan Gojek dapat dikaitkan dengan strategi pemasarannya yang efektif.

Gojek telah mencapai kesuksesan yang luar biasa dalam memasarkan layanannya, yang dibuktikan dengan penggunaannya yang meluas di kalangan masyarakat Indonesia.

Selain itu, Gojek telah secara efektif memperkenalkan produk dan layanannya kepada publik melalui platform online, menjangkau audiens yang beragam.

Kemudian, strateginya yang digunakan Gojek ini adalah Customer acquisition at all costs.

Customer Acquisition Cost (CAC) sendiri merupakan metrik yang mengukur total biaya yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan untuk memperoleh pelanggan baru.

Biaya ini mencakup semua pengeluaran yang terkait dengan pemasaran dan penjualan.

Dengan memahami dan mengoptimalkan CAC, perusahaan dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih tepat, menetapkan strategi harga yang efektif, dan mengoptimalkan Return on Investment (ROI).

Dalam dunia bisnis, CAC berperan penting karena memberikan pemahaman langsung tentang biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh pelanggan baru.

Melalui CAC, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi anggaran pemasaran, membuat keputusan berbasis data mengenai alokasi sumber daya, dan mencapai keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas.

Jadi, meskipun mengakuisisi pelanggan penting, perusahaan juga harus memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan

Lalu, mengapa bakar uang? Pertama, network effect. Semakin banyak driver yang bergabung dengan Gojek, semakin mudah pengguna mendapatkan layanan.

Begitu pula sebaliknya. Ini menciptakan siklus yang menguntungkan Gojek, membangun ekosistem yang solid.

Kedua, membangun brand awareness. Dengan promo menggiurkan, Gojek tertanam kuat di benak masyarakat Indonesia. Siapa yang tak kenal Gojek? Dari ojek motor, layanan pesan antar makanan, hingga pembayaran digital, Gojek merajalela.

Ketiga, menghalangi kompetitor. Grab, rival utama Gojek, ikut-ikutan bakar uang. Ini menciptakan perang tarif yang sengit.

Pelanggan tertawa lebar, namun startup pendatang gigit jari karena sulit bersaing.

Baca Juga: Mengelola Keuangan Bisnis: Tips dan Trik untuk Finansial

Dampak dari Bakar Uang: Berkah atau Malapetaka?

Uang yang dibakar Gojek tak main-main. Mereka merugi dalam jangka pendek demi menguasai pasar. Strategi ini menuai pro dan kontra.

Dampak Positif:

  • Pertumbuhan pesat Gojek: Ekosistem Gojek merambah berbagai layanan, dari transportasi hingga keuangan. Gojek menjelma menjadi super app Indonesia.
  • Menumbuhkan budaya digital: Masyarakat Indonesia terbiasa dengan layanan on-demand dan transaksi digital. Ini mempercepat inklusi keuangan.
  • Membuka lapangan kerja: Gojek menciptakan peluang kerja baru bagi driver, mitra GoFood, dan lainnya.

Dampak Negatif:

  • Sustainability yang dipertanyakan: Bisakah Gojek terus menerus bakar uang? Mereka perlu mencari cara agar profitabel di masa depan.
  • Praktik persaingan tidak sehat: Perang tarif bisa merugikan driver dan mitra Gojek. Pendapatan mereka belum tentu sepadan dengan biaya operasional.
  • Bubble ekonomi? Jika bakar uang berhenti, apakah pengguna setia Gojek karena layanannya yang baik, atau semata-mata tergiur promo?

Gojek Beyond Bakar Uang: Menuju Model Bisnis yang Berkelanjutan

Gojek sadar bahwa bakar uang bukanlah solusi jangka panjang. Mereka mulai menerapkan beberapa strategi:

  • Diversifikasi layanan: Gojek tak hanya fokus pada transportasi, tapi merambah layanan keuangan (GoPay), pesan antar makanan (GoFood), dan lainnya. Ini menghasilkan sumber pendapatan baru.
  • Meningkatkan efisiensi: Gojek terus berinovasi untuk mengoptimalkan penggunaan teknologinya. Ini mengurangi biaya operasional.
  • Monetisasi: Gojek mulai menarik biaya komisi yang lebih tinggi dari mitra dan menerapkan biaya antar yang lebih realistis.

Gojek dan masa depan: Akankah Sang Unicorn Terbang Tinggi?

Pertanyaan besarnya, apakah strategi Gojek berhasil? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Namun, yang pasti, bakar uang bukanlah strategi jangka panjang yang berkelanjutan bagi Gojek maupun perusahaan lainnya.

Meskipun strategi ini mungkin membantu mereka untuk mendominasi pasar dan mendapatkan basis pengguna yang besar dalam waktu singkat, namun hal ini tidak menjamin profitabilitas di masa depan.

Sehingga, Gojek perlu terus berinovasi dan beradaptasi untuk mencapai profitabilitas jangka panjang.

Mereka harus memastikan layanannya relevan, menarik, dan tetap diminati meskipun era promo besar-besaran telah usai. Gojek juga harus menjaga kesejahteraan para mitra agar ekosistemnya tetap berkelanjutan.

Lantas, apakah Gojek akan menjadi unicorn sejati yang terbang tinggi, atau  meledak? 

Pertanyaan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku industri teknologi dan ekonomi di Indonesia.

Faktor-faktor yang dapat mendukung Gojek untuk menjadi unicorn sejati:

  • Pasar yang besar dan bertumbuh pesat: Indonesia memiliki populasi terbesar keempat di dunia dengan kelas menengah yang terus berkembang. Hal ini merupakan peluang besar bagi Gojek untuk memperluas jangkauan layanannya dan meningkatkan basis penggunanya.
  • Dominasi pasar: Gojek memiliki pangsa pasar yang dominan di berbagai layanan, seperti transportasi online, pesan-antar makanan, dan pembayaran digital. Hal ini memberikan Gojek keunggulan kompetitif yang signifikan dan potensi untuk terus berkembang.
  • Diversifikasi bisnis: Gojek telah melakukan diversifikasi bisnis dengan memasuki berbagai sektor baru, seperti e-commerce, kesehatan, dan logistik. Hal ini memungkinkan Gojek untuk meningkatkan pendapatannya dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu sektor tertentu.
  • Inovasi: Gojek terus berinovasi dan mengembangkan produk dan layanan baru untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Hal ini membantu Gojek untuk tetap kompetitif dan menarik pengguna baru.
  • Dukungan investor: Gojek telah mendapatkan pendanaan yang signifikan dari investor ternama di dunia. Hal ini memberikan Gojek sumber daya yang diperlukan untuk terus berkembang dan berinvestasi dalam inovasi.

Namun, Gojek juga perlu mewaspadai beberapa tantangan yang dapat menghambat pertumbuhannya:

  • Persaingan yang ketat: Gojek menghadapi persaingan yang ketat dari pemain lokal dan global di berbagai sektor bisnisnya. Hal ini dapat menekan margin keuntungan dan mempersulit Gojek untuk mempertahankan pangsa pasarnya.
  • Regulasi yang tidak pasti: Industri teknologi di Indonesia masih dalam tahap perkembangan dan regulasinya belum sepenuhnya jelas. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian bagi Gojek dan menghambat pertumbuhannya.
  • Ketergantungan pada pengemudi dan mitra usaha: Gojek sangat bergantung pada pengemudi dan mitra usahanya untuk menjalankan layanannya. Hal ini dapat menimbulkan risiko jika pengemudi dan mitra usaha tidak puas dengan pendapatan atau kondisi kerja mereka.
  • Keberlanjutan model bisnis: Model bisnis Gojek masih belum sepenuhnya berkelanjutan. Gojek masih mengalami kerugian dan perlu menemukan cara untuk mencapai profitabilitas.

Sehinngga, masa depan Gojek masih belum pasti. Ada banyak faktor yang dapat mendukung Gojek untuk menjadi unicorn sejati, namun ada juga beberapa tantangan yang perlu diatasi.

Keberhasilan Gojek akan bergantung pada kemampuannya untuk terus berinovasi, meningkatkan efisiensi, dan mengatasi tantangan yang dihadapinya.

Hanya waktu yang dapat menjawab apakah Gojek akan mampu terbang tinggi atau malah meledak.

Gojek menjadi unicorn sejati

Gojek Mengurangi Bakar Uang dan Inovasi Teknologi Baru Gojek

Gojek, unit bisnis dari PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, bertujuan untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. Presiden Unit Bisnis Layanan On Demand GoTo, Catherine Hindra Sutjahyo, menyatakan bahwa Gojek akan memprioritaskan untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan.

Bahwasannya, dengan penurunan promosi akan berdampak pada tingkat transaksi. Memang benar bahwa, secara kuantitatif, transaksi perlu dikurangi.

Kemudian, Gojek juga menggunakan beberapa strategi untuk mempertahankan pertumbuhan, seperti lebih selektif dalam menawarkan promosi. Gojek tidak lagi sekadar mengejar volume.

Selain itu, manajemen GOTO menegaskan perusahaan akan melanjutkan strategi pemangkasan biaya untuk memperbaiki neraca keuangan demi pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Namun, harga tetap menjadi perhatian utama bagi para pengguna.

Catherine menyebutkan bahwa Gojek berfokus untuk menghadirkan teknologi inovatif untuk menarik pelanggan terbaik.

Perusahaan berkomitmen untuk berinvestasi dalam machine learning untuk menyarankan pilihan makanan dan promosi yang disesuaikan pada platform pengantaran makanan mereka.

Selain itu, inovasi yang digunakan gojek adalah

  • Peningkatan aksesibilitas untuk memesan GoFood melalui Tokopedia, termasuk opsi pemesanan melalui web dan penjadwalan pesanan GoFood.
  • Fitur transportasi ini mencakup Alokasi Prioritas dan promo Koin GoPay yang tepat sasaran.
  • Layanan yang ditawarkan termasuk estimasi ongkos kirim GoSend, fitur draft order, dan penjadwalan pesanan GoBox.

Tak hanya itu, terdapat juga pengembangan produk pada fitur Gojek yaitu: 

  • Fitur Mode Hemat di GoFood menawarkan opsi pengiriman tanpa biaya atau potongan harga untuk pelanggan.
  • Perluasan GoTransit akan meningkatkan mobilitas multi-moda.
  • Layanan seperti GoCar Luxe dan GoRide XL ditawarkan sebagai opsi premium.
  • Layanan mobil GoSend mengirimkan barang berukuran besar dengan berat hingga 100 kg.

Gojek dan Ekosistem Digital Indonesia: Mitra, Inovasi, dan Pertarungan Super App

Cerita Gojek tak lengkap tanpa membahas para mitranya. Para driver, penjual makanan di GoFood, dan penyedia layanan lainnya adalah tulang punggung Gojek.

Strategi bakar uang Gojek berdampak signifikan terhadap mereka.

  • Awal yang Manis: Dengan subsidi yang tinggi, menjadi mitra Gojek kala itu menguntungkan. Banyak yang meraup pendapatan di atas rata-rata. Hal ini menarik banyak orang untuk bergabung.
  • Dampak Jangka Panjang: Namun, seiring menurunnya subsidi, penghasilan mitra turun. Ditambah lagi dengan kompetisi yang ketat antar mitra dan adanya biaya operasional seperti bensin dan perawatan kendaraan. Para mitra harus bekerja lebih cerdas dan efisien untuk mendapatkan penghasilan yang layak.

Gojek dan Inovasi: Lebih dari Sekedar Promo

Gojek tak hanya dikenal dengan bakar uangnya. Mereka juga gencar dalam berinovasi untuk meningkatkan layanan dan menjaga kelangsungan bisnis. Beberapa contohnya:

  • Gojek Engineering Vietnam (GEV): Pusat penelitian dan pengembangan Gojek yang berfokus pada artificial intelligence (AI) dan machine learning (ML). Teknologi ini digunakan untuk mengalokasikan order secara efisien dan meningkatkan akuratnya estimasi waktu kedatangan.
  • GoPay: Dompet digital Gojek yang kini telah melampaui fungsi pembayaran transportasi dan pesan antar makanan. GoPay bisa digunakan untuk berbagai transaksi seperti pembayaran bill dan pembelian produk digital.
  • Gojek for Good: Inisiatif Gojek untuk memberikan dampak sosial positif. Misalnya, program pelatihan digital untuk mitra dan masyarakat Indonesia agar semakin melek teknologi.

Super App Gojek: Perang dengan Grab dan Kompetisi Ketat

Gojek bercita-cita menjadi super app Indonesia, platform yang menyediakan berbagai layanan kebutuhan sehari-hari dalam satu aplikasi.

Namun, mereka harus berhadapan dengan Grab, pesaing utama yang juga menjalankan strategi serupa.

  • Perang Diskon: Baik Gojek maupun Grab sering kali memanfaatkan diskon dan promosi untuk menarik pelanggan. Ini menguntungkan konsumen namun bisa merugikan kesehatan finansial perusahaan dalam jangka panjang.
  • Memperluas Jangkauan: Persaingan semakin ketat dengan masuknya para pemain baru di sektor tertentu, seperti ShopeeFood untuk pesan antar makanan dan DANA untuk dompet digital. Gojek harus terus berinovasi dan mencari cara untuk tetap relevan di mata pengguna.
Super App Gojek

Gojek dan Tantangan Regulasi: Beradaptasi atau Kalah Bersaing

Disamping gempuran kompetitor, Gojek juga dihadapkan pada tantangan regulasi.

Regulasi yang tepat dapat menyehatkan industri digital, sementara regulasi yang ketat dapat menghalangi inovasi.

Mari lihat beberapa contoh tantangan regulasi yang dihadapi Gojek:

Regulasi Ketenagakerjaan Mitra:

Status mitra Gojek sebagai pekerja formal atau informal masih menjadi perdebatan. Ketidakjelasan ini dapat berdampak pada hak dan jaminan sosial mitra.

Mitra Gojek, khususnya pengemudi ojek online, dikategorikan sebagai pekerja informal atau mitra dan tidak terikat hubungan kerja dengan Gojek.

Hal ini berarti mereka tidak memiliki hak-hak dan perlindungan seperti pekerja formal, seperti:

  • Pesangon
  • Cuti
  • Upah minimum
  • Jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan

Regulasi Fintech:

Gojek, yang berkembang dari aplikasi ride-hailing menjadi pemimpin dalam ekosistem fintech di Indonesia, tentunya perlu mengikuti regulasi fintech yang berlaku.

Berikut beberapa poin penting terkait regulasi fintech yang perlu diperhatikan Gojek:

  • Jenis Layanan: Regulasi fintech berbeda tergantung jenis layanan keuangan yang ditawarkan. Gojek, dengan layanan GoPay sebagai contoh, likely falls under regulations for electronic money (e-money) issued by non-bank institutions.
  • Otoritas Pengaturan: Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjadi lembaga yang mengatur dan mengawasi fintech, termasuk e-money. Gojek perlu memastikan operasional GoPay sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan OJK.
  • Anti Money Laundering (AML) dan Know Your Customer (KYC): Regulasi fintech umumnya mengharuskan penerapan program AML dan KYC untuk mencegah tindak pidana pencucian uang dan kejahatan finansial lainnya. Gojek perlu memiliki sistem yang kuat untuk memverifikasi identitas pengguna dan memantau aktivitas transaksi.
  • Perlindungan Konsumen: Regulasi fintech juga mengatur mengenai perlindungan konsumen. Gojek harus memastikan transparansi biaya, keamanan data pengguna, dan mekanisme penanganan keluhan yang baik.

Secara umum, regulasi fintech bertujuan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang inovatif namun tetap aman dan terpercaya.

Gojek, sebagai pemain utama fintech di Indonesia, memiliki peran penting dalam memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital.

Regulasi Monopoli:

Gojek, platform on-demand terkemuka di Indonesia, telah menjadi sorotan terkait potensi praktik monopoli, terutama setelah merger dengan Tokopedia yang melahirkan GoTo Group.

Berikut beberapa poin penting terkait regulasi monopoli Gojek di Indonesia:

Undang-Undang yang Mengatur:

  • UU No. 5 Tahun 1999 tentang Persaingan Usaha: Melarang praktik monopoli dan praktek usaha tidak sehat lainnya yang dapat merugikan konsumen dan pelaku usaha lain.
  • Peraturan KPPU No. 22 Tahun 2018 tentang Merger dan Akuisisi: Mengatur proses notifikasi dan penilaian merger dan akuisisi untuk memastikan tidak terjadi praktik monopoli.

Kekhawatiran Monopoli:

  • Dominasi Pasar: Gojek memiliki pangsa pasar yang besar di berbagai layanan, seperti transportasi online, pesan-antar makanan, dan pembayaran digital.
  • Praktik Predatory Pricing: Kekhawatiran Gojek menggunakan strategi harga murah untuk menyingkirkan pesaing.
  • Penyalahgunaan Data: Kekhawatiran Gojek memiliki akses dan kontrol data pengguna yang besar, berpotensi disalahgunakan.

Langkah KPPU:

  • Pengawasan Ketat: KPPU terus memantau aktivitas Gojek, termasuk merger dengan Tokopedia.
  • Penilaian Akuisisi: KPPU telah menyelesaikan penilaian akuisisi Tokopedia oleh Gojek dan menyatakan tidak menemukan bukti pelanggaran UU Persaingan Usaha.
  • Sanksi Keterlambatan Notifikasi: KPPU menjatuhkan sanksi kepada Gojek atas keterlambatan notifikasi akuisisi beberapa perusahaan fintech.

Perkembangan Terbaru:

  • Gojek Melakukan Penyesuaian: Gojek telah melakukan beberapa penyesuaian bisnis atas arahan KPPU, seperti membuka akses data kepada pihak ketiga.
  • Diskusi Regulasi E-commerce: Pemerintah dan DPR sedang membahas regulasi e-commerce baru yang diharapkan dapat mencegah praktik monopoli di sektor digital.

Nah, meskipun Gojek telah menunjukkan itikad baik dalam mengikuti regulasi, kekhawatiran monopoli masih perlu diwaspadai.

KPPU terus melakukan pengawasan dan diperlukan regulasi yang lebih kuat untuk memastikan persaingan usaha yang sehat di era digital.

Gojek dan Masa Depan Regulasi: Menuju Ekosistem Digital yang Berkelanjutan

Gojek perlu berperan aktif dalam berkonsultasi dengan pemerintah untuk membuat regulasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Beberapa hal yang dapat dilakukan Gojek:

  • Mematuhi Regulasi yang Ada: Gojek harus memastikan operasional mereka sesuai dengan regulasi yang berlaku saat ini.
  • Bekerjasama dengan Regulator: Gojek dapat bekerja sama dengan pihak berwenang untuk membuat regulasi yang akomodatif terhadap inovasi bisnis model seperti mereka.
  • Menjaga Transparansi: Gojek perlu secara transparan mengungkapkan praktik bisnis mereka kepada regulator dan publik.

Dengan beradaptasi terhadap regulasi, Gojek dapat menciptakan ekosistem digital yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.

Intinya, Gojek telah bertransformasi dari startup ride-hailing menjadi perusahaan teknologi dengan berbagai layanan. Perjalanan mereka penuh dengan tantangan, mulai dari bakar uang, persaingan ketat, hingga regulasi.

Namun, Gojek juga telah memberikan dampak positif bagi masyarakat Indonesia dengan membuka lapangan kerja dan menumbuhkan inklusi keuangan.

Akankah Gojek terus menjadi pelopor ekonomi digital Indonesia? Masa depan mereka bergantung pada kemampuan berinovasi, beradaptasi, dan berkontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

1. Apakah Gojek hanya menguntungkan driver dan mitra lainnya?

Jawab: Tidak. Gojek juga memberikan dampak positif lainnya, seperti:
Kemudahan bagi pengguna: Gojek menawarkan kemudahan akses transportasi dan layanan on-demand lainnya dalam satu aplikasi.
Pertumbuhan UMKM: Gojek membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasarkan produk mereka melalui GoFood dan layanan lainnya.
Efisiensi ekonomi: Gojek mendorong efisiensi ekonomi dengan mempertemukan permintaan dan penawaran secara lebih cepat dan mudah.

2. Bagaimana Gojek dibandingkan dengan Grab?

Jawab: Gojek dan Grab bersaing ketat sebagai super app di Asia Tenggara. Keduanya memiliki persamaan dan perbedaan:
Persamaan: Kedua perusahaan menawarkan berbagai layanan, seperti transportasi, pesan antar makanan, dan dompet digital. Mereka sama-sama menggunakan strategi bakar uang untuk akuisisi pengguna.
Perbedaan: Gojek lebih dominan di Indonesia, sementara Grab memiliki jangkauan yang lebih luas di Asia Tenggara. GoPay, dompet digital Gojek, lebih fokus pada pembayaran dalam ekosistem Gojek, sedangkan GrabPay memiliki fitur yang lebih luas, seperti investasi dan transfer internasional.

3. Apakah Gojek memonopoli pasar?

Jawab: Dominasi Gojek di Indonesia memunculkan kekhawatiran praktik monopoli. Meskipun belum ada bukti konkrit, tetap penting untuk:
Pemerintah: Menetapkan regulasi anti-monopoli yang sehat untuk menjaga iklim kompetisi yang adil.
Gojek: Menjaga transparansi bisnis dan memastikan praktik bisnis mereka tidak merugikan kompetitor.

4. Bagaimana masa depan Gojek?

Jawab: Masa depan Gojek bergantung pada beberapa faktor:
Kemampuan berinovasi: Dapatkah Gojek terus menghadirkan layanan baru dan relevan untuk pengguna?
Adaptasi terhadap regulasi: Bisakah Gojek mematuhi regulasi dan tetap bisa berkembang?
Kompetisi: Bagaimana Gojek menghadapi persaingan dari perusahaan lain, baik startup lokal maupun perusahaan teknologi global?

5. Akankah Gojek tetap menjadi unicorn Indonesia?

Jawab: Gelar unicorn disematkan pada startup dengan valuasi di atas 1 miliar dolar AS. Apakah Gojek bisa mempertahankan status unicorn dan bahkan menjadi decacorn (valuasi di atas 10 miliar dolar AS) tergantung pada kinerja bisnis mereka ke depannya.

Safira Haddad, Penulis Konten Profesional yang berpengalaman 2+ tahun dalam dunia kepenulisan dan berdedikasi di Upgraded.id. Kemampuan utama, SEO dan Content Writing.

You might also like