Apa Itu NFT Marketplace? Panduan Pemula di Dunia Digital

Kamu pernah dengar frasa “NFT marketplace” dan bertanya-tanya, “Wah, apa sih itu sebenarnya?” atau “Apakah saya bisa ikut main di situ?”

Nah, artikel ini akan membahas semua hal terkait apa itu NFT marketplace, mulai dari definisi, mekanisme, contoh-nyata, peluang & risiko, hingga langkah-praktis kalau kamu tertarik untuk terjun. Yuk simak!

Apa Itu NFT Marketplace?

Non‑Fungible Token (NFT) adalah token digital unik yang tidak dapat dipertukarkan 1 : 1 dengan token lainnya karena memiliki identitas yang khas.

Sehingga, NFT marketplace ini disebut sebagai platform daring di mana kamu bisa membeli, menjual, dan kadang membuat (minting) NFT.

Sama seperti Amazon atau eBay, hanya saja barangnya adalah aset digital yang unik.

Contohnya: Kamu punya ilustrasi digital unik, kamu “mint” jadi NFT, lalu kamu taruh di NFT marketplace supaya ada orang lain yang tertarik membeli. Setelah terjual, hak kepemilikan secara blockchain berpindah.

Kenapa ini penting? Karena kalau kamu bicara “apa itu NFT marketplace”, maka kamu perlu memahami bahwa bukan sekadar “platform jual-beli” biasa, tapi adanya unsur blockchain, token unik, transfer kepemilikan digital, dan kadang utility tambahan.

Baca Juga: Tips dan Contoh Deskripsi Produk Rumah Tangga Untuk Jualan

Sejarah dan Evolusi NFT Marketplace

Sekarang, mari kita kembali ke masa lalu sejenak: bagaimana perkembangan NFT marketplace bisa menjadi topik yang banyak dibicarakan orang saat ini?

Nah mulai dari kancah global, platform seperti OpenSea ini telah muncul sebagai “pasar peer-to-peer terbesar untuk koleksi aset digital unik” yang mendukung transaksi NFT.

Sedangkan di Indonesia, semakin banyak marketplace lokal seperti TokoMall, Paras.id, dan Kolektibel yang mulai bermunculan. Ada beberapa pendorong di balik fenomena ini: teknologi blockchain yang semakin matang, meningkatnya kesadaran akan nilai aset digital, aktivitas seniman digital yang terus bertambah, dan pertumbuhan komunitas kolektor.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, pasar NFT mendapat perhatian karena harga masuk yang relatif lebih “terjangkau” dibandingkan dengan pasar Barat.

Jadi, kalau kamu berpikir bahwa “NFT marketplace” baru muncul secara instan tidak, ini hasil evolusi teknis + budaya + ekonomi.

Dan ya ‘ikut tren’ boleh, tapi penting juga untuk memahami akar dan mekanismenya.

Kenapa NFT Marketplace Bisa Menarik?

Apakah “apa itu NFT marketplace” hanya sekadar hype? Tentu tidak sepenuhnya. Ada beberapa alasan mengapa banyak orang tertarik masuk sana baik sebagai kreator, kolektor, maupun pengamat.

Beberapa keunggulan:

  • Keunikan & kelangkaan: Karena NFT bersifat non-fungible, satu token bisa berbeda dari token lain dalam koleksi yang sama. Contohnya: dua karya seni digital yang tampak mirip salah satu memiliki id unik di blockchain, dan hak kepemilikannya fasih tercatat. Keunikan ini sering jadi magnet bagi kolektor.
  • Pasar global: Dengan NFT marketplace, seorang kreator di Indonesia bisa menjual karyanya ke kolektor di Eropa, Amerika, Asia tanpa perlu galeri fisik. Globalisasi dalam bentuk digital.
  • Potensi pendapatan baru untuk kreator: Seniman digital yang mungkin sebelumnya “cuma” mengunggah di Instagram, sekarang bisa monetize karya via NFT.
  • Utility tambahan: Beberapa NFT marketplace atau projek memberikan lebih dari sekadar gambar mungkin akses eksklusif, event khusus, atau merchandise fisik. Misalnya marketplace lokal yang menghubungkan karya digital dengan barang fisik.

Bagaimana Cara Kerja NFT Marketplace?

Mari kita jelajahi langkah demi langkah, agar kamu dapat memahami proses “di balik layar” ketika seseorang berkata, “saya menjual NFT di…”.

1. Pembuatan NFT (Minting)

Kreator membuat token unik di blockchain (misalnya menggunakan standar seperti ERC-721 atau lainnya). Token ini merepresentasikan karya digital atau terkadang aset fisik.

Karya digital bisa berupa gambar, animasi, video, audio, game-item, atau kombinasi.

Contoh: Seorang ilustrator di Yogyakarta memutuskan untuk mint ilustrasi­nya sebagai NFT di suatu marketplace lokal. Setelah minting selesai, karya tersebut punya identitas yang unik.

2. Listing di NFT Marketplace

Karya yang sudah mint kemudian ditawarkan di marketplace. Kreator bisa menentukan harga tetap atau menggunakan sistem lelang (auction). Konsumen/kolektor melihat listing, bisa melakukan bidding atau langsung membeli.

Di marketplace ada antarmuka pencarian, kategori, filter persis seperti belanja online biasa.

3. Transaksi dan Kepemilikan

Ketika pembeli menyetujui pembelian, token NFT berpindah dari kreator ke pembeli di blockchain.

Pembayaran bisa menggunakan kripto atau terkadang dengan rupiah via mekanisme lokal (tergantung platform). Kepemilikan tercatat secara immutable (tidak bisa diubah).

Misalnya: Kamu membeli NFT karya digital “Limited Edition #23”. Wallet kamu sekarang mencatat token tersebut sebagai milikmu.

4. Royalti / Hak Kreator

Beberapa marketplace memungkinkan kreator mendapat royalti (persentase tertentu) ketika NFT mereka dijual ke pihak lain kemudian hari (secondary sale). Ini menjadi salah satu inovasi menarik dalam dunia kreator digital.

5. Marketplace sebagai Ekosistem

Marketplace tak hanya tempat jual-beli: bisa ada komunitas, event drop NFT, kolaborasi dengan brand, utility nyata untuk token misalnya redeem barang fisik, akses ke event, atau akses digital eksklusif.

Di Indonesia pun ada marketplace yang menyertakan item fisik sebagai bagian dari NFT.

Dengan memahami alur ini, kamu bisa lebih sadar saat masuk ke situ: bukan cuma “aku mint dan tunggu kaya”, tetapi harus paham proses, biaya, risiko, dan mekanika kepemilikan.

Contoh NFT Marketplace

Supaya nggak hanya teori, yuk kita lihat contoh-nyata marketplace khususnya di Indonesia dan juga internasional agar kamu punya bayangan nyata.

Di Indonesia:

  • TokoMall: Platform yang disebut “NFT Marketplace terbesar di Indonesia” yang memfasilitasi kreator lokal dan brand untuk menjual NFT, dan juga memungkinkan barang fisik sebagai redeem dari token. t
  • Paras.id: Marketplace digital collectibles berbasis Indonesia (atau dengan tim Indonesia) yang memungkinkan kreator & kolektor memperdagangkan NFT.
  • Kolektibel: Marketplace yang menargetkan penggemar bola basket dengan koleksi NFT rekaman laga dan barang unik, contoh spesifik penggunaan niche.

Internasional:

  • OpenSea: Salah satu marketplace besar dunia untuk NFT, banyak koleksi dan banyak transaksi.

Melalui contoh-contoh di atas, kita bisa lihat: marketplace bisa bermain di banyak segmen seni digital umum, sports-memorabilia digital, barang fisik + digital (phygital), hingga niche khusus.

OpenSea

Peluang & Manfaat NFT

Sekarang, bagian yang bikin mata agak berbinar (tapi jangan langsung terbuai tanpa kepala dingin): peluang yang bisa hadir lewat NFT marketplace.

  • Monetisasi Kreator Digital: Jika kamu punya karya digital (gambar, video, musik, ilustrasi), NFT marketplace dapat jadi jalur baru untuk monetize. Tidak butuh galeri fisik atau banyak izin: cukup mint, listing, jual.
  • Akses Kolektor Global: Buat kolektor di manapun kamu di Malang, karya kamu bisa dibeli oleh kolektor di Kanada atau Tokyo. Asalkan kamu punya akses internet dan platform yang mendukung global.
  • Diversifikasi Portofolio: Bagi kolektor atau investor, NFT bisa menjadi bagian dari aset digital (dengan catatan: risiko tinggi).
  • Utility & Inovasi Baru: Beberapa NFT bukan sekadar gambar bisa jadi tiket event eksklusif, voucher fisik, akses komunitas tertutup, dan lainnya. Misalnya marketplace Indonesia yang menawarkan redeem barang fisik bersama NFT.
  • Eksplorasi Kreativitas: Marketplace juga mendorong kreativitas baru seniman bisa bereksperimen dengan tipe karya digital yang lebih luas, kolektor bisa mengeksplorasi cara baru memiliki aset.

Misalnya: Bayangkan kamu sebagai ilustrator di kampus (hayo, bisa kan?).

Kamu buat string-gif animasi lucu, mint sebagai NFT di marketplace lokal, lalu listing. Seseorang dari luar negeri tertarik dan membeli. Kamu dapat royalti kalau nanti token itu dijual lagi. Keren kan?

Risiko & Tantangan NFT

Oke, sekarang bagian yang agak “kok diingatkan” karena ya, penting banget.

  • Volatilitas dan spekulasi: Banyak transaksi di NFT marketplace yang sangat dipengaruhi hype, trend, viral. Nilai token bisa naik turun drastis. Artinya, bisa untung besar, tapi juga bisa kehilangan uang.
  • Risiko scam dan penipuan: Ada studi yang menyebut bahwa banyak proyek NFT palsu, “rug-pull”, atau promosi palsu yang mengecoh kolektor.
  • Biaya transaksi (gas fee) dan teknologi yang betul-betul harus dipahami: Jika minting atau transaksi dilakukan di blockchain dengan gas fee tinggi, biaya bisa menjadi beban. Begitu juga dengan kompleksitas wallet, keamanan, private key.
  • Regulasi yang belum jelas: Di Indonesia misalnya, regulasi untuk NFT belum sepenuhnya spesifik. “Despite the interest … the regulatory regime for NFTs is uncertain.” Artinya: ada ketidakpastian soal pajak, kepemilikan, mekanisme hukum jika terjadi sengketa.
  • Likuiditas terbatas untuk beberapa aset: Hanya karena kamu mint NFT, bukan berarti langsung banyak yang berebut membelinya; pasar bisa sepi tergantung niche atau kondisi.
  • Spam, overproduction, kualitas yang menurun: Seiring banyaknya kreator, kualitas karya bisa beragam. Untuk kolektor, menemukan yang benar-benar “unik” bisa jadi tantangan.
  • Aspek digital vs fisik: Token punya kepemilikan digital, tetapi seringkali karya fisiknya tetap bisa disalin atau dikopi. Keunikan artinya kadang lebih “kepemilikan token” daripada eksklusivitas visual. Penting untuk memahami apa yang kamu beli.

Jadi ya, jika kamu memutuskan “oke, saya mau coba di NFT marketplace”, jangan cuma berharap kaya instan.

Anggap ini bagian dari eksperimen, belajar, dan jika memungkinkan jangan taruh semua telur di keranjang ini.

Langkah-Praktis untuk Pemula NFT

Berikut adalah langkah-nyata yang bisa kamu lakukan:

  1. Pahami dan tentukan tujuanmu
    • Apakah kamu sebagai kreator (ingin jual karya digital)?
    • Atau sebagai kolektor (ingin beli NFT karena tertarik atau karena spekulasi)?
    • Atau hanya ingin tahu dan eksplorasi saja?
      Mengetahui tujuanmu akan membantu mengatur ekspektasi dan strategi.
  2. Pilih marketplace yang sesuai
    • Untuk Indonesia: seperti TokoMall, Paras.id, Kolektibel.
    • Internasional: OpenSea, Rarible dan lainnya.
    • Pastikan platform itu aman, memiliki reputasi, dan sesuai dengan kebutuhanmu (misalnya metode pembayaran, blockchain yang digunakan, fee transaksi).
  3. Persiapkan karya atau aset digital (jika kamu kreator)
    • Pastikan karya punya unsur keunikan atau value yang menarik (ide, estetika, cerita). Seperti yang disebut dalam artikel bahwa keunikan (rarity) adalah kunci.
    • Pertimbangkan ukuran file, format, metadata yang tepat (judul, deskripsi, properti khusus jika karya berupa koleksi).
  4. Membuat wallet dan memahami blockchain
    • Kamu akan butuh wallet kripto yang kompatibel dengan marketplace yang kamu pilih.
    • Pelajari sedikit soal gas fee, standar token NFT (misalnya ERC-721, ERC-1155) jika platform memakai Ethereum atau blockchain lainnya.
  5. Minting dan Listing
    • Proses minting: membuat token di blockchain. Ada biaya (tergantung blockchain).
    • Listing: menentukan harga, apakah fixed price atau lelang; menulis deskripsi menarik; menambahkan atribut (jika koleksi) atau utility tambahan.
  6. Promosi & Komunitas
    • Untuk karya yang bagus, seringkali butuh promosi: media sosial, komunitas NFT, kolaborasi.
    • Bergabung dengan komunitas kreator/kolektor bisa membantu (jaringan, feedback, pameran digital).
  7. Manajemen Kepemilikan & Royalti
    • Sebagai kreator: jika marketplace mendukung royalti, pastikan kamu atur persentase dengan jelas.
    • Sebagai kolektor: simpan credential wallet, backup private key, pahami bahwa kepemilikan digital berbeda dengan kepemilikan fisik.
  8. Evaluasi dan Belajar
    • Lihat bagaimana pasar bereaksi: apakah karya kamu diminati? Apakah harga naik/turun? Apa yang bisa diperbaiki?
    • Jangan ragu untuk belajar dari komunitas, workshop, artikel, ataupun kasus-nyata.
  9. Pertimbangkan Risiko & Exit Strategy
    • Jangan semua dana dikerahkan ke satu NFT. Diversifikasi.
    • Siapkan strategi: kapan kamu akan menjual atau hold? Apakah tujuannya untuk profit cepat atau koleksi jangka panjang?

Dengan langkah-praktis di atas, kamu nggak sekadar “terjun” begitu saja, tapi dengan bekal yang lebih matang.

Tips dan Trik yang Bermanfaat NFT

Tips “insider” (tapi tetap umum) supaya kamu makin siap jika decide untuk eksplorasi di NFT marketplace.

  • Cari niche yang belum terlalu ramai: Banyak karya digital, jadi jika kamu bisa temukan ceruk (niche) yang kurang digarap, bisa jadi keunggulan.
  • Storytelling penting: Karya digital dengan cerita mengapa dibuat, apa maknanya seringkali lebih menarik kolektor daripada gambar yang “cantik tapi tanpa cerita”.
  • Utility bisa menambah value: Misalnya karya yang disertai akses ke event eksklusif, merchandise fisik, atau hak khusus untuk pembeli.
  • Audit dan reputasi platform: Pastikan marketplace yang kamu gunakan punya reputasi baik dan aman. Khususnya jika memakai kripto.
  • Pelajari biaya: Gas fee, komisi marketplace, royalti kreator semua ini harus diperhitungkan. Kadang biaya minting bisa lebih besar daripada hasil penjualan, terutama jika karya belum begitu dikenal.
  • Jaga keamanan wallet kamu: Private key = kunci hidup aset digital kamu. Backup, jangan share, gunakan wallet yang aman.
  • Jangan tertarik hanya karena “teman bilang ini cepat untung”: Ketahui bahwa banyak hype sementara, dan pasar bisa berubah.
  • Lihat legalitas dan pajak: Karena regulasi di Indonesia masih belum sepenuhnya spesifik, kamu perlu tahu konsekuensi legal atau fiskal jika karya kamu sukses besar.
  • Komunitas sangat membantu: Banyak kreator atau kolektor yang bergabung di grup diskusi, Discord, Telegram di situ kamu bisa dapat insight, kolaborasi, dan belajar dari pengalaman orang lain.
  • Evaluasi nilai keunikan (rarity) dan permintaan pasar: Banyak karya yang bagus secara visual tapi belum tentu bisa laku karena pasar belum siap. Sedangkan kekurangan keunikan bisa membuat karya sulit menonjol.

Dengan tips-trik tersebut saya harap kamu jadi lebih siap bukan cuma “oke saya buat karya, lalu saya tunggu orang beli” tapi dengan pikiran yang lebih terarah dan realistis.

Kasus Nyata & Fakta Menarik NFT

Untuk membuat semuanya lebih hidup, berikut beberapa fakta menarik dan contoh yang bisa kamu “angkut” sebagai inspirasi atau pelajaran.

  • Di Indonesia disebut-sebut bahwa tren NFT makin meningkat sejak viralnya fenomena seperti “efek Ghozali” (meskipun bukan hanya soal NFT saja). Laporan menyatakan bahwa keunikan karya menjadi kunci kesempatan kreator di pasar lokal.
  • Ada penelitian yang mengungkap bahwa lebih dari 36% dari proyek-promosi NFT yang di-tweet di Twitter dalam studi tertentu ternyata ternyata adalah proyek-penipuan atau pra-mint penipuan
  • Di Asia Tenggara termasuk Indonesia pasar NFT memiliki potensi besar karena adopsi digital yang relatif cepat dan harga masuk yang relatif lebih rendah dibanding beberapa pasar barat.
  • Contoh: Marketplace lokal seperti TokoMall menawarkan fitur “barang fisik + digital” (phygital) untuk menghubungkan karya digital dengan item fisik (misalnya merchandise).

Banyak dari fakta-ini menunjukkan bahwa dunia NFT marketplace bukan sekadar gimmick, tapi punya elemen ekonomi, teknologi, dan kreatif yang nyata.

Tapi juga jangan lupa: fakta tentang risiko dan spekulasi juga nyata.

Perspektif Masa Depan NFT

Mari kita “menengok ke depan” sedikit: bagaimana kira-kira arah perkembangan NFT marketplace? Apa yang bisa kita antisipasi?

  • Integrasi dengan Metaverse & Game: NFT marketplace semakin terhubung dengan dunia game, metaverse (ruang virtual), dan item digital dalam game. Karya digital bukan cuma gambar statis, bisa item game, karakter, skin, akses virtual.
  • Phygital & Ekosistem Multi-Dimensi: Konsep aset yang punya komponen digital sekaligus fisik akan makin populer. Di Indonesia ada yang sudah mencoba ini.
  • Regulasi dan Infrastruktur yang Lebih Matang: Dengan makin banyak adopsi, kemungkinan besar regulasi lokal akan makin jelas tentang pajak, hak cipta, perlindungan konsumen, dsb. Entah kapan persisnya, tapi arah ini sangat mungkin.
  • Penurunan Biaya Teknologi & Adopsi yang Lebih Luas: Blockchain baru, biaya gas lebih rendah, UX platform yang lebih mudah semakin banyak kreator atau kolektor pemula yang bisa ikut mungkin termasuk kamu.
  • Ekosistem Support Kreator yang Lebih Kuat: Kreator akan punya lebih banyak tools: marketplace yang mendukung minting mudah, integrasi marketplace + komunitas + media sosial, platform kolaborasi.
  • Pasar Kolektor yang Lebih Tersegmen: Alih-alih “NFT umum”, kita akan lihat market niche yang lebih dalam: seni spesifik, olahraga, musik, token utilitas, komunitas eksklusif.
  • Risiko yang Lebih Terlihat dan Regulasi yang Lebih Ketat: Karena pasar makin besar, akan makin banyak kasus risiko, regulasi, dan pengawasan jadi yang masuk harus makin cerdas dan hati-hati.

Jadi, kita sudah melalui perjalanan dari definisi dasar hingga ke peluang, risiko, langkah-praktis, hingga pandangan masa depan mengenai “Apa Itu NFT Marketplace? Panduan Lengkap untuk Pemula di Dunia Digital”.

Kalau saya harus menyimpulkan dengan satu kalimat: NFT marketplace adalah jembatan antara kreator digital + kolektor (atau investor) di dunia yang semakin digital, dengan segala kemudahan dan tantangannya.

Tapi jangan perlakukan sebagai “jalan pintas kaya cepat” lebih baik anggap sebagai eksperimen kreatif-digital yang bisa kamu kelola dengan baik: punya tujuan jelas, memahami mekanisme dan biaya, serta sadar akan risiko.

Kalau kamu pikir “oke, saya mau coba” atau “saya hanya mau tahu” itu bagus juga. Yang penting: sadar, siap belajar, dan jangan panik saat menghadapi perubahan pasar.

Sekarang saya ingin tahu: Apakah kamu sebagai pemula berminat kreator (jadi pembuat karya)? Atau sebagai kolektor (mencari token unik)? Atau hanya eksplorasi untuk mengetahui bagaimana dunia digital ini berkembang?

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan “NFT marketplace” dan bagaimana cara kerjanya?
Jawab: NFT marketplace adalah platform digital yang memungkinkan pembelian, penjualan, dan pertukaran token non-fungible (NFT). Kreator mint token unik yang merepresentasikan karya digital/fisik, listing di marketplace, pembeli membeli atau lelang, token berpindah kepemilikan di blockchain, dan kreator bisa mendapatkan royalti.

2. Apakah setiap karya digital bisa dijadikan NFT dan dijual?
Jawab: Secara teknis ya banyak karya digital bisa dijadikan NFT (gambar, animasi, audio, video). Tapi keberhasilan jual bukan hanya soal teknis: kriteria seperti keunikan, kualitas, story, network/promosi sangat penting. Plus, perlu memperhatikan biaya minting, aktifitas pasar, dan tingkat permintaan.

3. Apakah NFT marketplace di Indonesia aman dan legal?
Jawab: Pasar lokal semakin berkembang ada banyak marketplace Indonesia seperti TokoMall, Paras.id, Kolektibel. Namun dari sisi regulasi, masih ada ketidakjelasan. Sebagian aspek seperti pajak, hak cipta, dan pengaturan aset digital masih dalam tahap pengembangan. Jadi mulai dengan hati-hati, cek legalitas platform, dan jangan gunakan uang yang kamu tidak siap kehilangan.

4. Sebagai kolektor pemula, bagaimana saya memilih NFT yang bagus?
Jawab: Beberapa hal yang bisa kamu perhatikan:

  • Keunikan (rarity) karya, baik dari sisi desain, ide, atau jumlah yang dibikin.
  • Nama kreator atau brand yang sudah punya reputasi.
  • Utility atau nilai tambahan yang diberikan (akses ke event, merchandise fisik, manfaat komunitas).
  • Platform marketplace yang digunakan keamanan, reputasi, fee transaksi.
  • Jangan tergoda hanya karena “teman saya beli dan untung cepat” pasar bisa berubah, likuiditas bisa terbatas.

5. Apakah ada biaya yang harus saya bayar jika mau membuat atau membeli NFT?
Jawab: Ya ada beberapa biaya yang mungkin muncul, tergantung platform dan blockchain:

  • Biaya minting (membuat token) gas fee kalau memakai blockchain seperti Ethereum.
  • Komisi marketplace saat listing atau transaksi.
  • Biaya transaksi atau transfer token.
  • Jika membeli, mungkin harus bayar menggunakan kripto yang jauh lebih fluktuatif.
    Sangat penting menghitung semua biaya supaya kamu tahu potensi hasil bersihnya.

6. Apakah NFT hanya untuk “investasi cepat kaya”?
Jawab: Tidak sebaiknya dilihat demikian. Memang ada contoh orang yang untung besar, tapi banyak juga yang tidak laku atau bahkan rugi. Karena aset digital ini sangat spekulatif, likuiditas bisa terbatas, dan harga bisa naik/turun tajam. Lebih baik lihat sebagai kombinasi antara kreativitas + aset digital + risiko.

7. Bagaimana saya bisa mulai sebagai kreator di NFT marketplace?
Jawab: Berikut langkah-singkat:

  • Siapkan karya digital yang unik dan punya kualitas.
  • Pilih marketplace yang sesuai (lokal atau internasional).
  • Buat wallet kripto yang kompatibel dan pahami biaya minting.
  • Mint token dan listing karya di marketplace.
  • Promosikan karya kamu ke komunitas, media sosial, kolektor.
  • Pantau hasil dan belajar dari pengalaman: apakah listing-mu laku? Apa yang bisa diperbaiki?

8. Apa perbedaan antara marketplace lokal Indonesia dan marketplace internasional?
Jawab: Beberapa perbedaan utama:

  • Metode pembayaran: di marketplace lokal mungkin ada opsi rupiah atau integrasi lokal, sedangkan internasional sering pakai kripto spesifik.
  • Blockchain yang digunakan: lokal mungkin menggunakan blockchain lebih ringan/biaya lebih rendah, internasional mungkin Ethereum atau lainnya.
  • Fokus pasar: lokal mungkin lebih menonjolkan seniman Indonesia, brand lokal; internasional cakup global.
  • Regulasi dan perlindungan pengguna: lokal mungkin lebih mudah di-akses dalam konteks Indonesia, tapi internasional punya likuiditas lebih besar tapi regulasi bisa berbeda.

9. Apakah saya harus punya banyak uang untuk masuk ke NFT marketplace?
Jawab: Tidak selalu. Beberapa karya NFT bisa berharga rendah, atau kamu bisa memulai sebagai kreator tanpa modal besar (tergantung blockchain dan marketplace). Namun, harus realistis: jika kamu berharap hasil besar dengan modal minim tanpa persiapan, sangat riskan. Modal waktu, ide kreatif, network dan promosi sama pentingnya.

10. Bagaimana saya melindungi diri dari risiko di NFT marketplace?
Jawab: Beberapa langkah proteksi:

  • Gunakan platform dengan reputasi baik.
  • Pelajari kontrak, blockchain, dan biaya yang terkait.
  • Backup wallet dan private key, jangan share ke siapa pun.
  • Jangan tergoda dengan “investasi cepat kaya” yang jam-tertentu.
  • Cek proyek NFT: apakah ada roadmap, utility, komunitas aktif? Jika hanya hype tanpa dasar, berhati-hati sebab bisa jadi scam. Studi menunjukkan banyak promosi palsu di ruang NFT.
  • Simpan catatan transaksi, pahami bahwa aset digital bisa punya risiko likuiditas.

Safira Haddad, Penulis Konten Profesional yang berpengalaman 2+ tahun dalam dunia kepenulisan dan berdedikasi di Upgraded.id. Kemampuan utama, SEO dan Content Writing.

You might also like